Sawang Laut,Kundur| Tribun News 99 – Kehadiran PT TIMAH (Persero) Tbk di Desa Sawang Laut, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, tidak hanya ditandai dengan aktivitas perusahaan, tetapi juga melalui serangkaian program pemberdayaan masyarakat yang menyasar sektor ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, dan pelestarian lingkungan.

Berbagai program yang dijalankan secara berkelanjutan menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian masyarakat desa melalui penguatan potensi lokal.
Kepala Desa Sawang Laut, Jefrizal, mengatakan perusahaan telah berkontribusi dalam mendukung berbagai agenda pembangunan desa serta kegiatan masyarakat.
Menurutnya, manfaat dari sejumlah program yang dijalankan dapat dirasakan secara langsung oleh warga, baik dalam peningkatan aktivitas ekonomi maupun pembangunan fasilitas yang mendukung kehidupan masyarakat.
Ia menyampaikan, dukungan perusahaan juga diberikan terhadap pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Desa Sawang Laut yang diikuti 64 peserta. Bagi pemerintah desa, bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Di sektor budaya, PT TIMAH turut mendukung pembangunan Gerbang Tanjak atau Simpang Tanjak yang kini menjadi salah satu ikon baru Desa Sawang Laut. Bangunan yang mengusung ornamen tanjak khas Melayu itu dibangun sebagai simbol identitas budaya masyarakat setempat sekaligus memperkuat karakter kawasan desa.
Jefrizal menjelaskan, pembangunan Simpang Tanjak berangkat dari aspirasi masyarakat yang menginginkan hadirnya sebuah penanda kawasan yang mencerminkan jati diri budaya Melayu.
Selain menjadi identitas desa, keberadaan gerbang tersebut kini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang publik dan lokasi swafoto yang menarik perhatian pengunjung.
Pada sektor pemberdayaan ekonomi, perusahaan melanjutkan Program Berlian Kundur sebagai pengembangan dari Program BERLIAN. Program tersebut mencakup berbagai kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui budidaya ikan kakap putih, pembibitan mangrove, budidaya sayuran hidroponik, pengembangan usaha mikro terasi, serta sekolah sadar iklim.
Pelaksanaan program melibatkan sejumlah kelompok masyarakat, di antaranya Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tuah Bersatu, Kelompok Lanjut Lestari yang mengembangkan usaha terasi, Kelompok Lanjut Bestari di bidang hidroponik, serta kelompok-kelompok masyarakat lainnya yang menjadi sasaran pemberdayaan.
Pada 2025, cakupan program diperluas dengan penambahan budidaya ayam pedaging melalui Kelompok Unggas Sejahtera serta pengelolaan bank sampah oleh Kelompok Lanjut Berseri.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pendapatan masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan lingkungan.
Ketua Pokdakan Tuah Bersatu, Amran, mengisahkan kelompoknya mulai merintis budidaya kakap putih sejak 2022.
Dukungan berupa pendampingan, pelatihan, serta penyediaan sarana budidaya mulai diterima pada 2023 melalui program perusahaan yang bekerja sama dengan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam.
Menurut Amran, kelompoknya sebelumnya hanya mengenal budidaya kakap putih dari berbagai informasi yang diperoleh melalui media. Setelah mendapatkan pembinaan dan pelatihan teknis, mereka mulai memiliki keberanian untuk mengembangkan usaha budidaya secara mandiri.
Dalam perjalanannya, usaha tersebut menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan pengetahuan teknis, tingginya harga pakan pabrikan, kebutuhan operasional yang tidak sedikit, hingga kondisi cuaca yang memengaruhi produktivitas. Meski demikian, kelompok tetap berupaya mempertahankan kegiatan budidaya dengan dukungan pendampingan yang terus diberikan.
Bantuan yang diterima meliputi pembenahan lokasi budidaya, penyediaan benih, dukungan pakan, hingga pengembangan sarana pendukung lainnya. Pendampingan tersebut dinilai membantu kelompok menjaga keberlangsungan usaha sambil meningkatkan kemampuan teknis para anggotanya.
Amran menilai hasil ekonomi yang diperoleh saat ini memang belum sepenuhnya memenuhi harapan. Namun, pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan yang telah diperoleh menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha budidaya pada masa mendatang.
Ia mengatakan, jika dibandingkan dengan kondisi saat pertama kali merintis, perkembangan yang dicapai saat ini menunjukkan perubahan yang signifikan. Kawasan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara produktif kini telah menjadi lokasi budidaya yang terus dikembangkan.
Menurutnya, sebagian besar cita-cita kelompok telah mulai terwujud melalui proses pendampingan yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Program-program pemberdayaan yang dijalankan di Desa Sawang Laut memperlihatkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada bantuan fisik, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat.
Penguatan kelembagaan kelompok, pelestarian budaya lokal, serta pengembangan ekonomi berbasis potensi desa. Keberlanjutan program tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian masyarakat sekaligus menciptakan manfaat jangka panjang bagi pembangunan desa. [Nainggolan]




















