Guru Pendamping Wisata Belinyu Dibekali Bahasa Inggris dan Keterampilan Penyelamatan di Air

REDAKSI

- Redaksi

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:09 WIB

5069 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh:Rindu Handayani,M.Pd

Belinyu, Bangka Belitung|Tribun News 99 — Kegiatan wisata edukasi di kawasan pesisir bukan sekadar soal membawa siswa menikmati pemandangan laut. Di balik kegiatan tersebut terdapat tanggung jawab besar guru pendamping untuk memastikan komunikasi dengan wisatawan berjalan baik sekaligus menjaga keselamatan peserta didik ketika berada di lingkungan perairan.

Kebutuhan itulah yang menjadi perhatian Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) melalui program Kampus Berdampak dengan memberikan pelatihan bahasa Inggris pariwisata dan keterampilan dasar penyelamatan di air kepada guru pendamping wisata di SD Negeri 5 Belinyu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelatihan bertajuk “English for Hospitality and Water Rescue bagi Guru Pendamping Wisata Sekolah Dasar” tersebut berlangsung di SD Negeri 5 Belinyu, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat itu menyasar guru dan siswa di Dusun Air Jukung, Kecamatan Belinyu, yang dalam sejumlah kegiatan sekolah berperan mendampingi peserta didik dalam kegiatan darmawisata maupun wisata edukasi, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan kawasan pesisir dan perairan.

Pilihan materi pelatihan tidak lepas dari karakter wilayah Belinyu yang memiliki potensi wisata bahari. Ketika kegiatan pendidikan membawa siswa ke lingkungan perairan, kemampuan pendamping dalam berkomunikasi dan memahami prosedur keselamatan menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan wisata edukasi.

Pada sesi bahasa Inggris, Rindu Handayani, M.Pd., selaku Ketua Tim Pengabdian, memberikan materi English for Tourism and Hospitality. Materi diarahkan pada penggunaan bahasa Inggris yang bersifat praktis dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan wisata. Para peserta diperkenalkan dengan kosakata, ungkapan, serta bentuk komunikasi yang dapat digunakan ketika menyambut tamu, memberikan informasi, maupun mendampingi wisatawan.

Pendekatan yang digunakan adalah English for Specific Purposes (ESP), yakni pembelajaran bahasa yang disesuaikan dengan kebutuhan bidang tertentu. Dalam konteks kegiatan tersebut, bahasa Inggris tidak ditempatkan sekadar sebagai materi akademik, tetapi sebagai alat komunikasi yang dapat digunakan guru ketika menjalankan peran sebagai pendamping wisata edukasi.

Rindu menjelaskan bahwa pembekalan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri guru ketika berkomunikasi dengan wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan wisata edukasi.

Materi kemudian beralih pada aspek keselamatan di air. Ratno Purnamasari, M.Pd., memberikan pelatihan mengenai basic water rescue atau penyelamatan dasar di air. Materi ini menjadi relevan karena kegiatan wisata yang melibatkan kawasan pesisir dan perairan memiliki karakter risiko tersendiri, terutama ketika peserta kegiatan merupakan anak-anak sekolah yang membutuhkan pengawasan lebih ketat.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan metode RTRGT, yakni Reach, Throw, Row, Go, Tow. Metode tersebut memberikan urutan pendekatan dalam menghadapi situasi darurat di air dengan mempertimbangkan tingkat risiko bagi orang yang memberikan pertolongan.

Prinsip dasarnya adalah melakukan tindakan dengan risiko paling rendah terlebih dahulu. Penolong dapat berupaya menjangkau korban dari tempat yang aman atau melemparkan benda yang dapat membantu korban mengapung sebelum mempertimbangkan tindakan yang mengharuskan penolong masuk ke dalam air. Tahapan tersebut dimaksudkan agar upaya pertolongan tidak justru menimbulkan korban tambahan.

Selain penyampaian teori, Ratno juga mempraktikkan teknik tersebut kepada peserta. Pembekalan praktik menjadi bagian penting karena penanganan keadaan darurat di lingkungan perairan membutuhkan pemahaman mengenai tindakan yang tepat, cepat, dan tetap memperhatikan keselamatan penolong.

Bagi sekolah yang melaksanakan kegiatan wisata edukasi di kawasan pesisir, keterampilan semacam itu memiliki nilai praktis. Guru pendamping tidak hanya bertugas memastikan kegiatan pembelajaran berjalan sesuai rencana, tetapi juga harus mampu mengenali kondisi lingkungan dan mengambil langkah awal yang tepat ketika terjadi keadaan yang membutuhkan pertolongan.

Kegiatan tersebut diinisiasi di bawah naungan Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Penerbitan dan Publikasi (LP3MPP) Unmuh Babel. Program ini menjadi bagian dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dengan mempertemukan kepakaran perguruan tinggi dan kebutuhan praktis satuan pendidikan di wilayah pesisir.

Pihak penyelenggara memandang pelatihan tersebut sebagai bentuk hilirisasi kepakaran dosen kepada masyarakat. Pengetahuan yang selama ini berkembang di lingkungan akademik diarahkan agar dapat memberikan manfaat langsung bagi guru dan lingkungan sekolah, terutama dalam mendukung pelaksanaan wisata edukasi yang lebih komunikatif dan memperhatikan aspek keselamatan.

Dari sisi pendidikan, kegiatan tersebut juga memiliki kaitan dengan upaya memperkuat kompetensi guru. Kemampuan berbahasa Inggris yang disesuaikan dengan kebutuhan pariwisata dapat membantu pendamping dalam menjalankan komunikasi dasar selama kegiatan wisata, sementara pemahaman keselamatan di air memberikan tambahan pengetahuan untuk menghadapi lingkungan wisata yang memiliki risiko berbeda dengan aktivitas pembelajaran di dalam kelas.

Program tersebut juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas dan tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera. Hubungan itu terlihat dari fokus kegiatan yang menggabungkan peningkatan kapasitas pendidikan dengan pengetahuan dasar mengenai keselamatan.

Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah di kawasan pesisir seperti Belinyu menjadi penting karena pengembangan wisata edukasi tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik destinasi. Kualitas sumber daya manusia yang mendampingi peserta wisata juga menjadi bagian dari pengalaman dan keamanan kegiatan.

Melalui pelatihan tersebut, guru pendamping diharapkan memiliki bekal tambahan untuk menjalankan kegiatan wisata edukasi secara lebih percaya diri, baik ketika berkomunikasi dengan wisatawan maupun ketika menghadapi situasi darurat di lingkungan perairan. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan sekolah sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Bagi Bangka Belitung, penguatan kapasitas masyarakat pendidikan di wilayah pesisir dapat menjadi salah satu bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam. Pariwisata yang berkelanjutan juga membutuhkan pendamping yang mampu memberikan pelayanan informasi secara baik sekaligus memahami pentingnya keselamatan pengunjung.

Pelatihan di SD Negeri 5 Belinyu itu pada akhirnya memperlihatkan bahwa wisata edukasi memiliki dimensi yang lebih luas daripada kegiatan rekreasi siswa. Ada aspek pendidikan, komunikasi, pelayanan, dan keselamatan yang harus berjalan beriringan.

Ketika kemampuan tersebut diperkuat sejak lingkungan sekolah, kegiatan wisata di kawasan pesisir diharapkan dapat berlangsung dengan persiapan yang lebih baik dan memberikan pengalaman belajar yang lebih aman bagi peserta didik.

 

 

 

Berita Terkait

Selaraskan Program dengan Kebutuhan Masyarakat, PT Timah Lanjutkan Diskusi RIPPM di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Exploring Bandung’s Natural Wonders: From Volcanic Landscapes to Majestic Waterfall

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:58 WIB

Utamakan Kelestarian Lingkungan, Babinsa Lenangguar Imbau Warga Bijak Manfaatkan Lahan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:50 WIB

Melalui Pembinaan Teritorial, Babinsa Moyo Mekar Dukung Program Pendataan Sosial Ekonomi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:42 WIB

Kerekeh hingga Kerato, Babinsa Dukung Koordinasi Program Bedah Rumah di Lima Desa

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:29 WIB

Anggota Koramil 1607-03/Ropang Bersama Warga Gotong Royong di Desa Lenangguar

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:23 WIB

Pemuda Tangguh, Indonesia Kuat: Kasdim 1607/Sumbawa Hadiri Upacara Sumpah Pemuda 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Jaga Kedekatan dengan Masyarakat, Babinsa Hadiri Syukuran Pelantikan Kades Telaga

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:25 WIB

Rokok Ilegal Bermodus Truk Pendingin Terungkap, Kasdim 1607/Sumbawa Berikan Apresiasi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Jalin Keakraban, Babinsa Lenangguar Hadir di Tengah Warga

Berita Terbaru