BNNK Gayo Lues Dorong Pemuda Kute Bukit Tekuni Pupuk Organik, Upaya Bangun Ekonomi Alternatif dan Tekan Kultivasi Ganja

REDAKSI

- Redaksi

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:38 WIB

5028 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues|Tribun News 99 – Upaya membangun sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat sekaligus memperkuat pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika terus didorong di Kabupaten Gayo Lues.

Salah satunya melalui kegiatan Life Skill pembuatan pupuk organik Bio Nuklir padat dan cair yang dilaksanakan selama tiga hari, Senin hingga Rabu, 24–26 Agustus 2026, di Bale Desa Kute Bukit BERSINAR, Kecamatan Blangpegayon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut menyasar masyarakat Desa Kute Bukit BERSINAR, khususnya kalangan pemuda dan pemudi. Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan yang diarahkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi diharapkan dapat berkembang menjadi keterampilan produktif dan peluang usaha di tingkat desa.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BNNK Gayo Lues Fauzul Iman, S.T., M.Si., bersama Tim Dayamas dan personel BNNK Gayo Lues. Turut hadir unsur Disperindagkop Kabupaten Gayo Lues, Dinas Pertanian, Camat Blangpegayon, Brimob Gayo Lues, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Pj. Kepala Desa Kute Bukit BERSINAR Rusli Paraga, BPK Desa Kute Bukit, serta para peserta pelatihan.

Dalam penyampaiannya, Fauzul Iman menempatkan kegiatan tersebut dalam kerangka pemberdayaan masyarakat. Desa Kute Bukit disebut sebagai salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam upaya pencegahan tanaman terlarang.

Karena itu, program pemberdayaan alternatif diarahkan untuk membuka pilihan ekonomi yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Pesan yang disampaikan cukup jelas: pemberantasan narkotika tidak cukup hanya mengandalkan penindakan setelah persoalan terjadi. Masyarakat juga perlu diberikan pilihan kegiatan ekonomi yang realistis, produktif dan berkelanjutan.

Program GDAD atau pemberdayaan alternatif yang dijalankan di Gayo Lues selama ini diarahkan, antara lain, untuk mendorong masyarakat beralih dari tanaman ganja menuju komoditas legal, termasuk kopi. Dalam konteks itu, pelatihan pembuatan pupuk organik menjadi salah satu upaya untuk memperkuat mata rantai usaha pertanian masyarakat.

Fauzul Iman menjelaskan, keterampilan membuat pupuk organik padat dan cair diharapkan dapat membuka peluang usaha baru sekaligus membantu petani, terutama petani kopi, memperoleh pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Pupuk tersebut juga diharapkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk unggulan Desa Kute Bukit. Selain tanaman kopi, pupuk organik yang diperkenalkan dalam pelatihan tersebut disebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai tanaman palawija.

Di sinilah persoalan sebenarnya berada. Pelatihan akan kehilangan makna apabila berhenti pada ruang pertemuan, dokumentasi kegiatan dan pembagian pengetahuan tanpa ada tindak lanjut. Masyarakat membutuhkan akses bahan baku, pendampingan produksi, pengemasan, pemasaran, perizinan produk serta kepastian pasar.

Karena itu, dorongan BNNK Gayo Lues agar hasil pelatihan dilanjutkan melalui kerja sama dengan BUMK Desa Kute Bukit, Koperasi Kopi Gayo Lues BERSINAR maupun Koperasi Merah Putih menjadi bagian yang penting untuk diuji dalam pelaksanaan di lapangan.

Jangan sampai masyarakat dilatih membuat produk, tetapi setelah pelatihan selesai justru kembali menghadapi persoalan lama: tidak memiliki modal, tidak mempunyai tempat produksi, tidak mengetahui standar mutu, kesulitan mengurus legalitas, dan paling berat tidak memiliki pasar.

Kritik terhadap pola pemberdayaan seperti itu bukan berarti menolak program. Justru sebaliknya, program pemberdayaan harus dikawal agar benar-benar menghasilkan perubahan ekonomi. Pemerintah dan seluruh pihak terkait tidak boleh mengukur keberhasilan hanya dari jumlah peserta yang hadir atau jumlah kegiatan yang terlaksana.

Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apakah setelah beberapa bulan masyarakat benar-benar memproduksi pupuk, apakah produk tersebut digunakan petani, apakah ada transaksi, apakah terbentuk kelompok usaha, apakah pendapatan masyarakat meningkat, dan apakah ketergantungan terhadap sumber penghasilan yang berisiko dapat ditekan.

Dalam kegiatan tersebut, Fauzul Iman juga mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan pelatihan sebagai kegiatan yang selesai setelah tiga hari. Para pemuda dan pemudi diharapkan menjadi bagian dari upaya mewujudkan Desa Kute Bukit sebagai desa yang bersih dari narkoba atau BERSINAR.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan generasi muda sebagai garda terdepan dalam menjaga lingkungan sosial desa. Pencegahan narkoba memang tidak dapat dibebankan semata-mata kepada aparat penegak hukum. Keluarga, pemerintah desa, tokoh masyarakat dan generasi muda memiliki peran yang sama penting.

Namun, ajakan tersebut harus dibarengi dengan ruang ekonomi yang nyata. Anak muda tidak cukup hanya diminta menjauhi narkoba. Mereka juga harus diberikan kesempatan untuk bekerja, berusaha dan memperoleh penghasilan secara legal.

Dalam konteks inilah usaha pupuk organik dapat menjadi salah satu pilihan. Jika dikelola secara serius, produksi pupuk dapat terhubung dengan kebutuhan petani kopi dan komoditas pertanian lainnya yang menjadi bagian penting dari perekonomian masyarakat Gayo Lues.

Pj. Kepala Desa Kute Bukit BERSINAR Rusli Paraga dalam arahannya juga mendorong peserta agar ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak disimpan untuk diri sendiri. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat dibagikan kepada masyarakat lain yang belum mengikuti pelatihan.

Rusli juga melihat usaha pupuk organik sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat memiliki pilihan kegiatan ekonomi yang lebih produktif.

Pandangan tersebut patut mendapat perhatian. Sebab, pemberdayaan masyarakat pada dasarnya bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan membangun kemampuan agar masyarakat mampu berdiri dan mengembangkan usaha secara mandiri.

Sesi berikutnya diisi materi pembuatan pupuk organik padat dan cair oleh Rahmat Hidayat, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab bersama peserta.

Meski demikian, ada pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan setelah pelatihan berakhir. Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu memastikan kualitas produk, keamanan penggunaan, standar produksi, legalitas usaha serta strategi pemasaran apabila produk tersebut benar-benar akan dikembangkan sebagai komoditas yang diperjualbelikan.

Klaim mengenai kualitas pupuk juga harus ditempatkan secara proporsional. Pernyataan bahwa pupuk tersebut memiliki kualitas yang baik atau dapat digunakan untuk berbagai tanaman perlu dibuktikan melalui pendampingan teknis dan, bila diperlukan, pengujian sesuai ketentuan yang berlaku. Masyarakat jangan hanya diberi harapan, tetapi harus diberikan pengetahuan dan standar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hal tersebut penting agar program pemberdayaan tidak berubah menjadi sekadar jargon. Masyarakat Gayo Lues sudah terlalu sering berhadapan dengan berbagai program pembangunan yang hasil akhirnya baru dapat dirasakan apabila ada kesinambungan setelah kegiatan resmi ditutup.

Karena itu, BNNK Gayo Lues, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dinas teknis, koperasi dan kelompok masyarakat perlu duduk bersama menyusun langkah lanjutan yang konkret. Mulai dari pembentukan kelompok produksi, penyediaan sarana, pendampingan teknis, pencatatan usaha, pengemasan hingga pemasaran harus memiliki arah yang jelas.

Bila hal tersebut berjalan, pelatihan tiga hari itu tidak hanya menghasilkan peserta yang mengetahui cara membuat pupuk. Lebih jauh, kegiatan tersebut dapat melahirkan kelompok usaha baru yang memberi penghasilan, mendukung sektor pertanian dan memperkuat ketahanan sosial desa terhadap ancaman narkotika.

Sebaliknya, jika tidak ada tindak lanjut, kegiatan semacam ini berisiko hanya menjadi agenda tahunan yang selesai bersamaan dengan berakhirnya acara. Foto kegiatan mungkin tersimpan, laporan kegiatan mungkin selesai, tetapi persoalan ekonomi masyarakat tetap berada di tempat semula.

Dampak program seperti ini sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar persoalan pupuk. Jika berhasil, masyarakat memperoleh keterampilan, petani mendapatkan alternatif input pertanian, pemuda memiliki kegiatan produktif dan desa mempunyai peluang menciptakan sumber pendapatan baru.

Pada akhirnya, perang melawan narkotika juga membutuhkan strategi ekonomi. Masyarakat harus memiliki alasan yang kuat untuk memilih pekerjaan yang legal dan produktif. Karena itu, setiap program pemberdayaan harus benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, bukan sekadar memenuhi target kegiatan.

Pelatihan pembuatan pupuk organik di Kute Bukit kini berada pada tahap awal. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah tiga hari pelatihan selesai. Pemerintah dan seluruh pihak terkait dituntut membuktikan bahwa keterampilan yang diberikan mampu berubah menjadi kegiatan ekonomi yang hidup.

Masyarakat tidak membutuhkan janji panjang. Mereka membutuhkan pendampingan yang konsisten, akses usaha yang terbuka, pasar yang jelas dan keberpihakan nyata.

Jika itu dapat diwujudkan, maka pelatihan tersebut bukan hanya menjadi kegiatan Life Skill, melainkan investasi sosial dan ekonomi yang dapat memperkuat Desa Kute Bukit BERSINAR sekaligus mendukung upaya pencegahan narkotika di Kabupaten Gayo Lues. [Redaksi Tribun News 99.com]

Berita Terkait

Kabiro Tribun News 99 Sampaikan Harapan atas Pelantikan Suriadi sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Satreskrim Polres Gayo Lues Amankan Pria 52 Tahun, Enam Jeriken Solar dan Pertalite Disita
Dua Telepon Genggam Disita dalam Penindakan Dugaan Judi Online di Gayo Lues
Sopir Truk Pengangkut Noten Mengaku Dilempari di Sultan Daulat, Polisi Didesak Periksa Jalur Rawan
Rotasi PJU Polres Gayo Lues Jadi Momentum Penguatan Organisasi, Kapolres Tekankan Sinergi dengan Masyarakat
Usai Upacara HUT TNI, Kapolres Gayo Lues Datang Membawa Kejutan
Kepala SDN 4 Blangkejeren Rahmah Wati Ciptakan SI-HEBAT, Sistem Informasi Pemantauan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Jumat Curhat Polres Gayo Lues, Warga Sampaikan Keresahan Narkoba dan Judi Online

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:21 WIB

Melalui MTQH, Danramil Lunyuk Perkuat Harmoni Sosial dan Nilai Spiritual Masyarakat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:16 WIB

MTQH Jadi Wadah Pembinaan Generasi Muda, Danramil Moyo Hilir Hadir Berikan Dukungan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:58 WIB

Utamakan Kelestarian Lingkungan, Babinsa Lenangguar Imbau Warga Bijak Manfaatkan Lahan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:42 WIB

Kerekeh hingga Kerato, Babinsa Dukung Koordinasi Program Bedah Rumah di Lima Desa

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:36 WIB

Dukung Masa Depan Pencari Kerja, Kasdim Sumbawa Hadir di Sumbawa Job Fair 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:29 WIB

Anggota Koramil 1607-03/Ropang Bersama Warga Gotong Royong di Desa Lenangguar

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:23 WIB

Pemuda Tangguh, Indonesia Kuat: Kasdim 1607/Sumbawa Hadiri Upacara Sumpah Pemuda 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Jaga Kedekatan dengan Masyarakat, Babinsa Hadiri Syukuran Pelantikan Kades Telaga

Berita Terbaru