Gayo Lues|Tribun News 99 – Pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkotika tidak bisa hanya mengandalkan satu institusi. Di tengah tantangan persoalan narkotika yang terus membutuhkan perhatian serius, koordinasi antarpenegak dan lembaga terkait menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Pesan itu mengemuka dalam kunjungan silaturahmi Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues, Fauzul Iman, S.T., M.Si., ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Blangkejeren, Selasa, 1 September 2026.

Kunjungan tersebut disambut Kepala Lapas Kelas IIB Blangkejeren yang baru dilantik, Tri Wibawa Kristiyana, A.Md.IP., S.H., M.H. Pertemuan berlangsung di ruang kerja Kalapas dalam suasana yang disebut penuh keakraban.
Di balik agenda yang dikemas sebagai silaturahmi, pertemuan dua pimpinan lembaga tersebut memiliki arti penting. BNNK memiliki tugas dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika, sementara lembaga pemasyarakatan berhadapan langsung dengan aspek pembinaan warga binaan.
Dua wilayah tugas itu memiliki titik temu yang kuat ketika persoalan narkotika masuk ke lingkungan pemasyarakatan.
Karena itu, komunikasi yang berjalan baik bukan sekadar persoalan seremonial. Koordinasi yang lemah dapat membuat penanganan persoalan berjalan sendiri-sendiri, sementara persoalan narkotika membutuhkan kerja yang terintegrasi, konsisten dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak bertukar pandangan mengenai pentingnya koordinasi dan komunikasi berkesinambungan, terutama terkait persoalan penyalahgunaan dan peredaran narkotika serta pembinaan warga binaan.
Fauzul Iman menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan langkah awal membangun hubungan kerja yang semakin solid dengan jajaran Lapas Blangkejeren di bawah kepemimpinan baru.
Menurut dia, sinergi tidak cukup dibangun melalui koordinasi formal. Hubungan komunikasi yang baik juga diperlukan agar pelaksanaan tugas di lapangan dapat berjalan lebih mudah dan efektif.
“Silaturahmi menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi dan kerja sama yang kuat. Dengan hubungan yang baik, koordinasi dalam pelaksanaan tugas di lapangan akan semakin mudah dan efektif,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menyentuh persoalan mendasar dalam penanganan narkotika: koordinasi tidak boleh berhenti pada pertemuan dan dokumentasi.
Masyarakat membutuhkan hasil yang dapat dirasakan. Pencegahan harus menyentuh lingkungan masyarakat, sementara pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan harus berjalan seiring dengan upaya menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Kalapas Blangkejeren Tri Wibawa Kristiyana menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menyatakan kesiapan Lapas Blangkejeren membuka ruang komunikasi serta memperkuat koordinasi dengan BNNK Gayo Lues maupun instansi lainnya.
Menurut Tri Wibawa, narkotika merupakan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kerja sama antarlembaga dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang aman sekaligus mendukung pembinaan warga binaan.
“Kami menyambut baik silaturahmi ini. Semoga komunikasi dan koordinasi yang sudah terbangun dapat terus ditingkatkan sehingga sinergi antarinstansi semakin kuat,” ungkapnya.
Di titik inilah komitmen tersebut akan diuji.
Silaturahmi memang penting, tetapi masyarakat tentu berharap hubungan baik antarlembaga tidak berhenti sebagai agenda protokoler. Publik membutuhkan langkah konkret, koordinasi yang terukur, serta keseriusan dalam mencegah persoalan narkotika agar tidak semakin luas dampaknya.
Ancaman narkotika tidak mengenal batas institusi. Dampaknya dapat menjalar ke keluarga, lingkungan sosial, dunia pendidikan, hingga masa depan generasi muda. Karena itu, setiap celah koordinasi yang tidak berjalan optimal berpotensi menjadi persoalan yang jauh lebih besar apabila tidak segera diperbaiki.
Khusus di lingkungan pemasyarakatan, aspek keamanan dan pembinaan juga membutuhkan perhatian berkelanjutan. Lapas bukan hanya tempat menjalani masa pidana, tetapi juga ruang pembinaan agar warga binaan memiliki kesempatan memperbaiki diri dan kembali ke masyarakat.
Karena itu, komunikasi antara BNNK dan Lapas menjadi salah satu bagian penting dari upaya membangun sistem penanganan narkotika yang lebih menyeluruh.
Kunjungan Fauzul Iman kemudian ditutup dengan foto bersama. Momen tersebut menjadi simbol komitmen kedua lembaga untuk menjaga hubungan baik, memperkuat koordinasi dan membangun kemitraan dalam menjalankan tugas masing-masing.
Namun, simbol tentu belum cukup.
Masyarakat berhak melihat bagaimana komunikasi tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata. Pencegahan penyalahgunaan narkotika membutuhkan kehadiran negara yang konsisten, bukan hanya ketika persoalan muncul, tetapi juga melalui edukasi, deteksi dini, pembinaan dan koordinasi yang berjalan terus-menerus.
Kunjungan Kepala BNNK Gayo Lues ke Lapas Blangkejeren setidaknya menjadi pintu awal untuk membangun hubungan kerja yang lebih kuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan pintu tersebut tidak kembali tertutup setelah agenda silaturahmi selesai.
Sebab, dalam persoalan narkotika, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar kesepahaman di ruang pertemuan, melainkan sinergi yang benar-benar bekerja di lapangan. [Red]




















