Ruwatan Desa Picisan di Bulan Suro, Warga Rawat Tradisi Syukur, Doa, dan Kebersamaan

REDAKSI

- Redaksi

Senin, 13 Juli 2026 - 10:51 WIB

5028 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulungagung, Jatim|Tribun News 99 — Suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan menyelimuti Desa Picisan, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, saat masyarakat menggelar tradisi Ruwatan Desa pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini kembali dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen, doa memohon keselamatan, serta harapan agar masyarakat dijauhkan dari berbagai bencana, wabah penyakit, dan musibah yang dapat mengganggu kehidupan warga maupun sektor pertanian.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Picisan, Miselan, perangkat desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh agama, tokoh masyarakat, para sesepuh, unsur Lembaga Adat Desa (LAD), ketua RT, serta masyarakat dari berbagai dusun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan bahwa tradisi ruwatan tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Ruwatan Desa merupakan salah satu bentuk sedekah bumi yang masih dipertahankan oleh masyarakat agraris di kawasan lereng Gunung Wilis. Tradisi ini mengandung nilai spiritual, sosial, dan budaya yang berpadu dalam rangkaian kegiatan bersama.

Selain menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki dan hasil pertanian yang diperoleh, ruwatan juga dimaknai sebagai doa agar desa senantiasa diberikan ketenteraman, dijauhkan dari marabahaya, serta diberi keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan berlangsung di sejumlah titik yang memiliki nilai historis dan budaya bagi masyarakat setempat, seperti balai desa, punden, sumber mata air, masjid, maupun mushala. Warga secara bergotong royong mempersiapkan seluruh kebutuhan pelaksanaan acara, mulai dari penyediaan tumpeng, kenduri bersama, hingga kerja bakti membersihkan lingkungan desa sebelum prosesi utama dilaksanakan.

Dua hari sebelum puncak ruwatan, masyarakat lebih dahulu menggelar tahlil dan doa bersama di masjid maupun mushala. Dalam kegiatan tersebut, warga membaca Surat Yasin, melantunkan tahlil, serta memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon perlindungan kepada Allah SWT. Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari orang tua, pemuda hingga anak-anak, turut hadir dalam doa bersama tersebut.

Setelah rangkaian doa selesai, masyarakat membawa nasi tumpeng beserta aneka jajanan tradisional dalam wadah yang telah dipersiapkan untuk kemudian dinikmati bersama. Tradisi makan bersama menjadi simbol kebersamaan sekaligus wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Pada saat yang sama, doa juga dipanjatkan untuk para leluhur atau pembabat alas yang diyakini memiliki peran dalam sejarah berdirinya Desa Picisan.

Kepala Desa Picisan, Miselan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan pelaksanaan tradisi tersebut. Menurutnya, ruwatan desa merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat.

“Saya berharap masyarakat terhindar dari hal-hal yang kurang baik, sukerto, pagebluk, dan berbagai macam penyakit pada manusia, binatang ternak, maupun tanaman warga,” ujarnya.

Dalam pandangan masyarakat setempat, istilah “ruwat” berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang bermakna melepaskan atau membebaskan. Filosofi tersebut dimaknai sebagai upaya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh warga terbebas dari berbagai musibah, bencana, maupun gangguan yang tidak diharapkan. Nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga meskipun perkembangan zaman terus berlangsung.

Puncak tradisi biasanya dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang digelar pada malam hari. Bagi masyarakat Desa Picisan, wayang bukan hanya hiburan rakyat, melainkan media penyampaian nilai-nilai kehidupan.

Lakon yang dipentaskan sarat dengan pesan moral mengenai kejujuran, kebijaksanaan, tanggung jawab, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Karena itu, pertunjukan wayang dipandang sebagai tuntunan sekaligus tontonan bagi masyarakat.

Seluruh pembiayaan pelaksanaan tradisi ruwatan diperoleh dari swadaya masyarakat melalui iuran bersama. Semangat gotong royong tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya lokal.

Tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan pihak lain, warga bersama pemerintah desa berupaya menjaga agar tradisi yang diwariskan para leluhur tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Selain memperkuat nilai religius dan budaya, tradisi Ruwatan Desa juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarwarga. Melalui kerja bersama, doa bersama, hingga makan bersama, masyarakat membangun kembali rasa persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan desa.

Nilai kebersamaan tersebut dinilai tetap relevan di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Pelaksanaan Ruwatan Desa Picisan pada bulan Suro tahun ini berlangsung tertib, aman, dan penuh kekhidmatan. Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut bukan sekadar ritual budaya, melainkan bagian dari identitas desa yang mengajarkan pentingnya rasa syukur, kepedulian sosial, pelestarian warisan leluhur, serta penguatan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

Dengan terus dilestarikan secara terbuka dan mengedepankan nilai kebersamaan, tradisi ini diharapkan tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat Tulungagung. [Hilal]

Berita Terkait

PENGERJAAN PEMBANGUNAN TROTOAR JALAN TEUKU UMUR, PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN TURUN KEJALAN.
Tujuh Kursi Kosong, Pimpinan OPD Di Pemkab Tulungagung Telah Di isi
DINAS PUPR TULUNGAGUNG KEBUT PERBAIKAN JALAN DI KARANGREJO
PENGERJAAN PEMBANGUNAN TROTOAR JALAN TEUKU UMUR, PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN TURUN KEJALAN.
ACARA TASYAKURAN MEMPEINGATI HARI SANTRI MASIONAL DIHADIRI PLT. BUPATI AHMAD BAHARUDIN.
SMPN6 Tulungagung Peringati Hari Santri Nasional 
HARI SANTRI NASIONAL 2026, SMPN 6 TULUNGAGUNG BAGIKAN 380 PAKET SEMBAKO UNTUK WARGA.
KEJUARAAN PIALA BUPATI KEDIRI 2026 DIPEREBUTKAN KONTINGEN DARI SMPN 1 GURAH KEDIRI

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:21 WIB

Melalui MTQH, Danramil Lunyuk Perkuat Harmoni Sosial dan Nilai Spiritual Masyarakat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:16 WIB

MTQH Jadi Wadah Pembinaan Generasi Muda, Danramil Moyo Hilir Hadir Berikan Dukungan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:58 WIB

Utamakan Kelestarian Lingkungan, Babinsa Lenangguar Imbau Warga Bijak Manfaatkan Lahan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:42 WIB

Kerekeh hingga Kerato, Babinsa Dukung Koordinasi Program Bedah Rumah di Lima Desa

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:36 WIB

Dukung Masa Depan Pencari Kerja, Kasdim Sumbawa Hadir di Sumbawa Job Fair 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:29 WIB

Anggota Koramil 1607-03/Ropang Bersama Warga Gotong Royong di Desa Lenangguar

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:23 WIB

Pemuda Tangguh, Indonesia Kuat: Kasdim 1607/Sumbawa Hadiri Upacara Sumpah Pemuda 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Jaga Kedekatan dengan Masyarakat, Babinsa Hadiri Syukuran Pelantikan Kades Telaga

Berita Terbaru