Tulungagung, Jatim |Tribun News 99 — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tulungagung meningkatkan upaya edukasi kepada kalangan pelajar setelah mencatat ratusan remaja di daerah tersebut hidup dengan HIV/AIDS.
Program penyuluhan yang digelar di sejumlah sekolah pada momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dipandang sebagai langkah preventif untuk memperkuat pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi, perilaku hidup sehat, serta pencegahan penularan HIV.
Berdasarkan data yang disampaikan KPA Tulungagung, hingga pertengahan 2026 tercatat sebanyak 4.540 kasus HIV/AIDS di wilayah itu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 630 kasus berasal dari kelompok remaja. Data tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa kelompok usia muda termasuk kategori yang memerlukan penguatan edukasi secara berkelanjutan.
Sekretaris KPA Tulungagung, Ifada Nur Rohmania, mengatakan kelompok remaja yang tercatat hidup dengan HIV/AIDS berada pada rentang usia 16 hingga 19 tahun. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi alasan penting bagi pemerintah daerah bersama lembaga pendidikan untuk memperluas program pencegahan sejak dini.
Ia menegaskan bahwa edukasi merupakan salah satu strategi utama dalam menekan laju penularan HIV. Materi yang diberikan tidak hanya membahas pengenalan HIV/AIDS, tetapi juga kesehatan reproduksi, pentingnya menjaga privasi tubuh, kemampuan mengendalikan diri, serta membangun pemahaman mengenai perilaku yang aman dan bertanggung jawab.
Menurut Ifada, derasnya arus informasi di media sosial turut menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua konten yang dikonsumsi remaja memberikan contoh perilaku yang sesuai dengan nilai kesehatan maupun norma sosial. Karena itu, pendidikan yang berbasis informasi ilmiah dinilai menjadi penyeimbang agar remaja mampu menyaring berbagai informasi yang mereka terima.
“Edukasi diperlukan agar remaja memiliki pemahaman yang benar sehingga tidak menganggap seluruh perilaku yang muncul di media sosial sebagai sesuatu yang wajar untuk ditiru,” ujarnya.
Sebagai bagian dari program tersebut, KPA Tulungagung mengunjungi SMKN 1 Boyolangu untuk memberikan penyuluhan kepada para siswa baru yang sedang mengikuti MPLS.
Kegiatan itu diisi dengan pemaparan mengenai HIV/AIDS, cara penularan yang benar berdasarkan ilmu kesehatan, langkah-langkah pencegahan, pentingnya menghindari perilaku berisiko, serta penguatan karakter dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Ifada menjelaskan bahwa sekolah menjadi tempat yang strategis untuk menyampaikan edukasi kesehatan karena mampu menjangkau remaja secara langsung dalam lingkungan belajar yang kondusif.
Selain memberikan pengetahuan, kegiatan tersebut juga membuka ruang dialog sehingga para siswa dapat bertanya mengenai berbagai persoalan kesehatan reproduksi yang selama ini masih dianggap sensitif untuk dibahas.
Staf Kesiswaan SMKN 1 Boyolangu, Baskoro, mengatakan kerja sama antara pihak sekolah dan KPA telah berlangsung dalam beberapa kesempatan. Menurutnya, penyuluhan semacam ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang sehat sekaligus meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap berbagai persoalan yang berpotensi memengaruhi masa depan mereka.
Ia menilai pemberian informasi sejak awal masa sekolah dapat membantu siswa memahami risiko berbagai perilaku yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Dengan pengetahuan yang memadai, pelajar diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Program edukasi yang dilaksanakan selama MPLS juga diarahkan untuk menghilangkan kesalahpahaman mengenai HIV/AIDS. Selain menekankan pentingnya pencegahan, KPA mengingatkan bahwa orang yang hidup dengan HIV berhak memperoleh layanan kesehatan, dukungan sosial, serta tidak boleh mengalami diskriminasi.
Pendekatan ini dinilai penting agar upaya penanggulangan HIV berjalan seimbang antara aspek pencegahan, pengobatan, dan perlindungan hak setiap individu.
KPA berharap sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga edukasi mengenai HIV/AIDS tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari pembinaan remaja secara berkelanjutan.
Dengan langkah tersebut, angka penularan di kalangan usia muda diharapkan dapat ditekan, sementara pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap HIV/AIDS semakin meningkat. [Hilal]




















