Tulungagung, Jatim|Tribun News 99 — Momentum ketika matahari berada tepat di atas Ka’bah kembali dimanfaatkan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tulungagung untuk menguji ketepatan arah kiblat.
Fenomena astronomi yang hanya terjadi dua kali setiap tahun itu dinilai sebagai cara paling sederhana sekaligus memiliki tingkat akurasi tinggi dalam memastikan arah salat, sehingga masyarakat diimbau memanfaatkannya sebagai sarana verifikasi arah kiblat masjid maupun musala.
Kepala Kemenag Tulungagung, Afif Fauzi, mengatakan peristiwa Rashdul Kiblat yang berlangsung setiap 15 dan 16 Juli menjadi kesempatan penting untuk melakukan kalibrasi arah kiblat berdasarkan bayangan matahari. Pada 15 Juli 2026, pengamatan dilakukan sekitar pukul 16.27 WIB ketika posisi matahari berada tepat di atas Ka’bah di Kota Makkah.
Menurut Afif, metode tersebut tidak memerlukan peralatan yang rumit. Masyarakat cukup menyiapkan sebuah benda yang berdiri tegak lurus di tempat terbuka. Saat waktu Rashdul Kiblat berlangsung, bayangan yang terbentuk akan menunjukkan garis yang dapat dijadikan acuan untuk memastikan arah kiblat dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Ia menjelaskan, pengujian arah kiblat sangat dianjurkan terutama bagi masjid atau musala yang sedang dalam tahap pembangunan agar orientasi bangunan sejak awal benar-benar menghadap Ka’bah.
Sementara bagi tempat ibadah yang telah berdiri, penyesuaian arah kiblat dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan pengurus maupun keyakinan jamaah, meski dari sisi kesempurnaan ibadah, menghadap arah kiblat secara tepat tetap menjadi tujuan yang diupayakan.
Dalam pelaksanaan pengamatan, tim Kemenag Tulungagung menggunakan sejumlah alat bantu sederhana, di antaranya lot atau bandul, kompas, serta busur derajat. Pengamatan dilakukan di dua titik berbeda untuk memperoleh hasil yang dapat dibandingkan sebagai bagian dari proses verifikasi.
Penyuluh Agama Kemenag Tulungagung, Yasin, menjelaskan hasil pengukuran lapangan menunjukkan arah kiblat berada pada sudut sekitar 24 derajat dari arah barat ke utara. Angka tersebut diperoleh melalui metode observasi langsung terhadap bayangan matahari saat fenomena Rashdul Kiblat berlangsung.
Selain metode observasi lapangan, pengukuran juga dapat dilakukan menggunakan pendekatan ilmu falak melalui perhitungan segitiga berdasarkan koordinat geografis lokasi pengamatan dengan koordinat Ka’bah di Makkah.
Penyuluh Agama lainnya, Syafa’an, mengatakan metode perhitungan tersebut menghasilkan arah yang sejalan dengan hasil pengamatan langsung, yakni sekitar 24 derajat dari arah barat ke utara.
Kesesuaian hasil dari dua metode berbeda itu menjadi indikator bahwa pengukuran arah kiblat dapat dilakukan baik melalui observasi astronomi maupun pendekatan matematis. Keduanya saling melengkapi dalam memastikan ketepatan orientasi kiblat sesuai posisi geografis masing-masing wilayah.
Kemenag Tulungagung juga membuka layanan pengukuran arah kiblat secara resmi bagi masyarakat. Warga yang ingin memastikan arah kiblat rumah, musala, maupun masjid dapat mengajukan permohonan kepada Kantor Kemenag setempat dengan melampirkan surat pengantar atau rekomendasi dari kepala desa.
Setelah administrasi dipenuhi, tim teknis akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengukuran menggunakan metode dan peralatan yang telah ditetapkan.
Fenomena Rashdul Kiblat sendiri telah lama menjadi rujukan dalam ilmu falak karena memanfaatkan posisi matahari yang berada tepat di atas Ka’bah.
Pada saat itulah bayangan benda tegak di berbagai wilayah yang masih mengalami siang hari dapat dijadikan petunjuk arah menuju Ka’bah tanpa bergantung sepenuhnya pada kompas atau perangkat digital yang berpotensi dipengaruhi faktor lingkungan.
Melalui kegiatan kalibrasi tersebut, Kemenag Tulungagung berharap masyarakat semakin memahami pentingnya ketepatan arah kiblat sekaligus mengenal metode ilmiah yang dapat diterapkan secara sederhana.
Upaya ini tidak hanya menjadi bagian dari pelayanan keagamaan, tetapi juga bentuk edukasi agar masyarakat mampu memanfaatkan fenomena astronomi sebagai sarana memastikan arah ibadah secara lebih akurat. [Hilal]




















