Tulungagung |Tribun News 99 – Kinerja penyerapan beras di Kabupaten Tulungagung menunjukkan capaian yang mencolok. Hingga akhir Juli 2026, realisasi serapan gabah yang telah dikonversi menjadi beras mencapai 63.900 ton atau sekitar 98 persen dari target tahunan sebesar 64.000 ton.
Capaian tersebut menempatkan Tulungagung sebagai salah satu daerah dengan progres penyerapan beras yang sangat tinggi, sekaligus memperkuat optimisme terhadap ketahanan pangan nasional.
Percepatan serapan ini menjadi indikator bahwa kerja sama antara pemerintah, Perum Bulog, petani, dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pangan berjalan lebih efektif dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan target yang nyaris tercapai pada pertengahan tahun, peluang melampaui sasaran penyerapan hingga akhir 2026 pun terbuka lebar.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Tulungagung, Yonas Hariyadi Kurniawan, menjelaskan bahwa Bulog tidak hanya membeli gabah dari petani, tetapi juga mengolahnya menjadi beras sebelum masuk ke dalam cadangan pangan pemerintah.
“Serapan yang kami lakukan merupakan gabah yang kemudian diolah menjadi beras. Hingga saat ini realisasinya sudah mencapai 98 persen setara beras,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Menurut Yonas, apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, capaian tahun ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, baik dari sisi kecepatan waktu penyerapan maupun besarnya volume yang berhasil dikumpulkan.
Pada 2025, target serapan baru dapat diselesaikan sekitar September dengan total sekitar 42.000 ton. Sementara pada 2026, target dinaikkan drastis menjadi 64.000 ton dan diproyeksikan sudah bisa dituntaskan pada Agustus.
Artinya, bukan hanya waktu penyelesaian yang lebih cepat, tetapi juga volume penyerapan meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan tahun lalu. Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kemampuan Bulog dalam menyerap hasil panen petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.
Kenaikan target serapan juga mencerminkan besarnya potensi produksi pertanian di Tulungagung. Di sisi lain, percepatan penyerapan menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani agar hasil panen tidak mengalami tekanan harga ketika produksi sedang melimpah.
Selain menyerap hasil panen, Bulog memastikan stok beras yang tersedia masih berada dalam kondisi surplus. Cadangan tersebut dipersiapkan untuk mendukung berbagai program pemerintah, termasuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang bertujuan menjaga harga beras tetap terkendali di tengah dinamika pasar.
Yonas menilai stok yang dimiliki saat ini diperkirakan masih mampu memenuhi kebutuhan selama sekitar 12 bulan ke depan. Dengan kondisi tersebut, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras dalam waktu dekat.
Ia bahkan optimistis realisasi serapan hingga akhir tahun dapat melampaui target awal.
“Kemungkinan realisasi serapan beras tahun ini bisa melebihi target hingga sekitar 110 persen,” katanya.
Pencapaian tersebut menjadi gambaran bahwa strategi penyerapan hasil panen berjalan lebih efektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika tren positif ini terus terjaga, maka bukan hanya kesejahteraan petani yang berpotensi meningkat melalui kepastian pasar, tetapi juga kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di tengah berbagai tantangan sektor pangan.
Keberhasilan serapan beras yang hampir menyentuh angka maksimal pada pertengahan tahun menjadi sinyal positif bahwa penguatan cadangan pangan nasional dapat diwujudkan melalui sinergi antara petani, Bulog, dan pemerintah daerah.
Tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan tersebut terus diikuti dengan distribusi yang tepat sasaran sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas, baik melalui stabilitas harga maupun ketersediaan beras di pasar. [Hilal]




















