Tulungagung, Jatim |Tribun News 99 – Pemerintah Kabupaten Tulungagung kembali melaksanakan tradisi Jamasan Pusaka Tumbak Kanjeng Kyai Upas pada Jumat (3/7/2026) yang bertepatan dengan Jumat pekan kedua Bulan Suro atau 1 Muharram 1448 Hijriah.
Prosesi sakral yang digelar di halaman Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung tersebut menjadi bagian dari agenda budaya tahunan yang terus dipertahankan sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur sekaligus penguatan jati diri daerah.

Tradisi jamasan merupakan ritual penyucian pusaka yang telah berlangsung secara turun-temurun dan memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Tulungagung.
Pusaka Tumbak Kanjeng Kyai Upas selama ini dikenal sebagai salah satu benda bersejarah yang menjadi ikon Kabupaten Tulungagung. Selain memiliki nilai historis, pusaka tersebut juga dipercaya sebagai simbol perlindungan, keselamatan, persatuan, dan harapan akan keberkahan bagi daerah beserta masyarakatnya.
Prosesi diawali dengan doa bersama yang diisi pembacaan Surat Yasin dan tahlil.
Setelah itu, dilakukan pemandian pusaka menggunakan air yang berasal dari sembilan sumber mata air yang telah dipersiapkan sebelumnya. Penggunaan air dari sembilan sumber tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan melambangkan kesucian, keseimbangan, serta harapan agar kehidupan masyarakat Tulungagung senantiasa diberi keberkahan, kemakmuran, dan keselamatan.
Pelaksana Tugas Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, mengatakan bahwa tradisi jamasan bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan memiliki makna spiritual, historis, dan budaya yang harus terus dijaga. Menurutnya, tradisi tersebut telah diwariskan sejak masa Raden Mas Pringga Kusuma dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah Kabupaten Tulungagung.
Ia menjelaskan bahwa Kanjeng Kyai Upas merupakan simbol keteguhan, keberanian, serta semangat pengabdian dalam menjalankan amanah. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk dijadikan pedoman, khususnya bagi para pemimpin daerah dalam menjalankan tugas pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ahmad Baharudin juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya sebagai identitas daerah. Menurutnya, kemajuan pembangunan harus berjalan seiring dengan upaya mempertahankan nilai-nilai budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Moh. Ardian Candra, menuturkan bahwa penyelenggaraan jamasan merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah sekaligus wujud komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan warisan budaya.
Tradisi tersebut diharapkan dapat terus dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami sejarah serta memiliki rasa bangga terhadap budaya daerahnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Dengan demikian, tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur dapat terus hidup di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pelaksanaan jamasan tahun ini dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan DPRD, jajaran organisasi perangkat daerah, para camat, tokoh masyarakat, budayawan, serta ratusan warga yang memadati lokasi kegiatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa tradisi Jamasan Kanjeng Kyai Upas masih mendapat perhatian dan dukungan luas dari masyarakat.
Bagi masyarakat Tulungagung, prosesi jamasan bukan hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga momentum refleksi untuk memperkuat kebersamaan, mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, serta memanjatkan doa agar daerah senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, dan kemajuan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pelaksanaan tradisi Jamasan Kanjeng Kyai Upas menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal tetap memiliki ruang penting dalam kehidupan masyarakat.
Warisan leluhur tersebut tidak hanya dipelihara sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga dijadikan sumber inspirasi dalam membangun karakter, memperkuat persatuan, dan menjaga identitas Kabupaten Tulungagung agar tetap lestari dari generasi ke generasi. [Hilal]




















