Menghidupkan Kembali Pasar Tradisional, Disperindag Tulungagung Tegur Ratusan Pedagang yang Tinggalkan Lapak

REDAKSI

- Redaksi

Kamis, 9 Juli 2026 - 03:37 WIB

5027 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulungagung, Jatim|Tribun News 99 –  Ratusan kios dan lapak yang dibiarkan kosong dalam waktu lama menjadi potret nyata lesunya aktivitas perdagangan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Tulungagung. Kondisi tersebut mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung mengambil langkah administratif dengan melayangkan surat teguran kepada para pedagang yang tercatat tidak lagi aktif berjualan.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya menata kembali pemanfaatan fasilitas pasar sekaligus mencari solusi agar denyut ekonomi kerakyatan di pasar tradisional dapat kembali bergeliat.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan Disperindag, sebanyak 938 pedagang menerima surat teguran karena tidak lagi menjalankan aktivitas usahanya di pasar tradisional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari jumlah tersebut, 563 pedagang merupakan pemegang kios dan lapak di Pasar Wage, salah satu pasar yang dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan konveksi dan garmen di Tulungagung. Banyaknya lapak yang kosong tidak hanya mengurangi wajah pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga berdampak pada menurunnya minat masyarakat untuk datang berbelanja.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disperindag Tulungagung, Muhammad Khabib, menjelaskan bahwa surat teguran tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk sanksi, melainkan langkah pendataan dan evaluasi terhadap pemanfaatan kios maupun lapak yang telah diberikan kepada para pedagang. Banyak di antara mereka diketahui sudah lama tidak membuka usahanya sehingga tempat berjualan dibiarkan kosong tanpa aktivitas.

Melalui surat tersebut, pemerintah daerah ingin memperoleh kepastian mengenai status para pedagang. Mereka diminta memberikan keputusan apakah masih berniat kembali berdagang atau memilih mengakhiri usahanya di pasar tradisional.

Apabila tidak lagi ingin memanfaatkan tempat usaha, para pedagang diminta mengembalikan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) sehingga lapak yang kosong dapat ditata kembali sesuai kebutuhan dan kebijakan pemerintah daerah.

Hasil komunikasi awal menunjukkan sebagian besar pedagang sebenarnya masih memiliki keinginan untuk bertahan. Namun mereka mengaku menghadapi berbagai kendala yang membuat aktivitas perdagangan sulit dijalankan.

Biaya operasional yang terus meningkat, mulai dari kebutuhan modal, transportasi, hingga biaya sehari-hari, tidak lagi sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Di sisi lain, perubahan pola belanja masyarakat yang semakin bergeser ke platform digital membuat jumlah pembeli di pasar tradisional terus menurun.

Fenomena tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pasar tradisional. Persaingan dengan perdagangan berbasis daring membuat banyak pedagang kehilangan pelanggan tetap. Kemudahan bertransaksi melalui aplikasi, beragam pilihan produk, hingga layanan pengiriman yang cepat menjadi alasan sebagian masyarakat beralih dari pasar konvensional.

Akibatnya, sejumlah pedagang memilih menutup usahanya karena tidak mampu lagi menutupi biaya operasional harian.
Pasar Wage menjadi salah satu contoh yang paling terasa mengalami perubahan tersebut. Pasar yang pernah menjadi sentra perdagangan konveksi dan garmen kini tidak lagi seramai beberapa tahun lalu.

Bahkan sejumlah komoditas yang sebelumnya menjadi ciri khas pasar tersebut mulai menghilang. Pedagang daging, misalnya, kini sudah tidak lagi ditemukan di kawasan pasar itu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan aktivitas perdagangan tidak hanya terjadi pada satu jenis usaha, tetapi hampir merata di berbagai sektor.

Keberadaan ratusan kios kosong juga berdampak terhadap suasana pasar secara keseluruhan. Semakin banyak lapak yang tutup, semakin sedikit pengunjung yang datang. Sebaliknya, minimnya pembeli membuat pedagang lain ikut mengalami penurunan omzet. Situasi ini menciptakan lingkaran persoalan yang sulit diputus apabila tidak disertai langkah pembenahan yang menyeluruh.

Disperindag Tulungagung mengakui bahwa upaya menghidupkan kembali pasar tradisional tidak bisa hanya mengandalkan penataan administrasi. Revitalisasi fisik pasar memang menjadi salah satu alternatif, namun keterbatasan anggaran daerah membuat pelaksanaannya belum dapat dilakukan secara maksimal.

Karena itu, pemerintah daerah kini berupaya mencari berbagai solusi lain yang lebih realistis agar pasar tradisional kembali menarik bagi pedagang maupun masyarakat.

Berbagai strategi terus dikaji, mulai dari optimalisasi pemanfaatan kios yang kosong, peningkatan pelayanan pasar, hingga mendorong kegiatan ekonomi yang mampu menarik kembali pengunjung. Harapannya, pasar tradisional tidak hanya bertahan sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga tetap menjadi ruang ekonomi rakyat yang mampu bersaing di tengah perubahan pola perdagangan yang semakin modern.

Langkah Disperindag memberikan surat teguran kepada ratusan pedagang menjadi bagian dari proses penataan agar aset pemerintah daerah dapat dimanfaatkan secara optimal.

Di sisi lain, kebijakan tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberlangsungan pasar tradisional membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat. Tanpa upaya bersama untuk membangkitkan kembali aktivitas perdagangan, keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu pilar ekonomi lokal dikhawatirkan akan semakin tergerus oleh perubahan zaman. [HILAL]

Berita Terkait

PENGERJAAN PEMBANGUNAN TROTOAR JALAN TEUKU UMUR, PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN TURUN KEJALAN.
Tujuh Kursi Kosong, Pimpinan OPD Di Pemkab Tulungagung Telah Di isi
DINAS PUPR TULUNGAGUNG KEBUT PERBAIKAN JALAN DI KARANGREJO
PENGERJAAN PEMBANGUNAN TROTOAR JALAN TEUKU UMUR, PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN TURUN KEJALAN.
ACARA TASYAKURAN MEMPEINGATI HARI SANTRI MASIONAL DIHADIRI PLT. BUPATI AHMAD BAHARUDIN.
SMPN6 Tulungagung Peringati Hari Santri Nasional 
HARI SANTRI NASIONAL 2026, SMPN 6 TULUNGAGUNG BAGIKAN 380 PAKET SEMBAKO UNTUK WARGA.
KEJUARAAN PIALA BUPATI KEDIRI 2026 DIPEREBUTKAN KONTINGEN DARI SMPN 1 GURAH KEDIRI

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Pastikan Wilayah Tetap Aman, Anggota Koramil Sumbawa Pantau Pusat Aktivitas Masyarakat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:48 WIB

Perkuat Sinergi TNI, Polri dan Pemerintah Desa, Babinsa Batudulang Ikuti Penilaian Lomba 3 Pilar

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Respons Insiden Keracunan MBG di Tarano, Babinsa Hadiri Rakor Penanganan dan Evaluasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Danposramil Unter Iwes Hadiri Lokakarya Mini Tingkat Kecamatan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:21 WIB

Melalui MTQH, Danramil Lunyuk Perkuat Harmoni Sosial dan Nilai Spiritual Masyarakat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:16 WIB

MTQH Jadi Wadah Pembinaan Generasi Muda, Danramil Moyo Hilir Hadir Berikan Dukungan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:58 WIB

Utamakan Kelestarian Lingkungan, Babinsa Lenangguar Imbau Warga Bijak Manfaatkan Lahan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:50 WIB

Melalui Pembinaan Teritorial, Babinsa Moyo Mekar Dukung Program Pendataan Sosial Ekonomi

Berita Terbaru

REGIONAL

Komsos Babinsa, Perkuat Persatuan dan Keamanan Desa Hijrah

Jumat, 30 Okt 2026 - 01:16 WIB