Tulungagung,Jatim| Tribun News 99 – Pemerintah Kabupaten Tulungagung menerima kunjungan Tim Penilai Lomba Wana Lestari Tingkat Nasional 2026 dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia sebagai bagian dari tahapan verifikasi lapangan terhadap Kelompok Tani Hutan (KTH) Sumber Lestari di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo.
Kelompok tersebut dipercaya mewakili Provinsi Jawa Timur pada kategori Kelompok Tani Hutan Maju setelah dinilai berhasil menerapkan pengelolaan hutan berbasis masyarakat secara berkelanjutan.
Kunjungan yang berlangsung di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso itu menjadi momentum penting bagi Kabupaten Tulungagung dalam upaya mempertahankan reputasi pengelolaan sumber daya hutan yang mengedepankan aspek konservasi sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Setelah penyambutan resmi, tim dari Kementerian Kehutanan dijadwalkan melakukan peninjauan langsung ke lokasi pengelolaan hutan di Desa Samar untuk mencocokkan data administrasi dengan kondisi nyata di lapangan.
Pelaksana Tugas Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menyambut langsung rombongan Tim Penilai Kementerian Kehutanan bersama Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim yang dinilai tidak hanya menjalankan proses penilaian, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan kualitas pengelolaan hutan di daerah.
Menurut Baharudin, kepercayaan yang diberikan kepada Tulungagung untuk mewakili Jawa Timur merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.
Ia menilai pencapaian tersebut tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses pembinaan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas Kehutanan, Pemerintah Kabupaten Tulungagung, hingga Pemerintah Desa Samar yang selama ini memberikan pendampingan kepada kelompok tani hutan.
Ia menjelaskan bahwa seluruh persiapan telah dilakukan secara maksimal agar proses verifikasi berjalan sesuai ketentuan. Tim penilai akan melihat secara langsung bagaimana anggota kelompok mengelola kawasan hutan, menjalankan kegiatan konservasi, memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, hingga memastikan keberlanjutan fungsi ekologis kawasan yang mereka kelola.
Verifikasi lapangan menjadi tahapan krusial dalam Lomba Wana Lestari karena seluruh indikator penilaian tidak hanya bertumpu pada dokumen administrasi, tetapi juga implementasi nyata di lapangan.
Tim penilai akan mengevaluasi berbagai aspek, mulai dari tata kelola kelembagaan kelompok, keberhasilan rehabilitasi kawasan, pelestarian keanekaragaman hayati, pengembangan ekonomi masyarakat, hingga tingkat partisipasi warga dalam menjaga kelestarian hutan.
Baharudin berharap hasil yang telah dicapai KTH Sumber Lestari dapat menjadi contoh bagi kelompok tani hutan lainnya di Kabupaten Tulungagung maupun daerah lain. Menurutnya, pengelolaan hutan yang baik tidak hanya menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Ia juga berharap tim penilai memberikan masukan yang konstruktif terhadap berbagai aspek yang masih perlu disempurnakan. Evaluasi tersebut dinilai penting agar pengelolaan kawasan hutan di Tulungagung terus berkembang sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah pusat.
Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen terus mendukung kelompok-kelompok tani hutan melalui pembinaan, pendampingan, serta penguatan kapasitas kelembagaan.
Ketua KTH Sumber Lestari mengungkapkan rasa bangga atas kepercayaan yang diberikan kepada kelompoknya sebagai wakil Jawa Timur pada ajang tingkat nasional.
Ia mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh anggota yang selama bertahun-tahun konsisten melakukan penanaman pohon, menjaga kawasan hutan, melaksanakan konservasi sumber daya alam, serta mengembangkan berbagai usaha berbasis hasil hutan bukan kayu yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan kelompok tidak dapat dipisahkan dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, pemerintah daerah, Dinas Kehutanan, hingga masyarakat yang selama ini ikut menjaga kawasan hutan.
Sinergi tersebut menjadi modal utama dalam membangun sistem pengelolaan hutan yang mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur menilai pencapaian KTH Sumber Lestari menunjukkan bahwa pendekatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat mampu menghasilkan manfaat ganda. Selain menjaga fungsi ekologis kawasan hutan, model tersebut juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya hutan secara bijaksana dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan hutan lestari harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Keberhasilan Tulungagung diharapkan dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam mengembangkan tata kelola hutan yang lebih produktif tanpa mengabaikan aspek konservasi.
Lomba Wana Lestari sendiri merupakan agenda tahunan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia yang bertujuan memberikan penghargaan kepada kelompok masyarakat, pemerintah desa, maupun pegiat kehutanan yang dinilai berhasil menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan secara lestari, produktif, dan berkelanjutan.
Program ini sekaligus menjadi instrumen pemerintah dalam mendorong partisipasi masyarakat menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan sekaligus sumber kesejahteraan.
Dengan proses verifikasi lapangan yang sedang berlangsung, Kabupaten Tulungagung menaruh harapan besar agar KTH Sumber Lestari mampu menunjukkan seluruh capaian terbaiknya di hadapan tim penilai nasional.
Apabila berhasil meraih prestasi, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu provinsi yang berhasil mengembangkan pengelolaan hutan berbasis masyarakat secara berkelanjutan. [HILAL]




















