Tulungagung,Jatim|Tribun News 99 — Bentuk perundungan terhadap anak dan remaja kini berkembang jauh melampaui ejekan di ruang kelas atau kekerasan fisik.
Ancaman yang lebih sulit dikenali justru hadir melalui ruang digital dengan modus love scamming, ketika pelaku membangun kedekatan emosional secara daring untuk memperoleh kepercayaan korban, lalu memanfaatkannya sebagai alat intimidasi, pemerasan, hingga tekanan psikologis. Fenomena ini dinilai menjadi salah satu tantangan serius dalam perlindungan anak dan remaja di era digital.
Psikolog Tulungagung, Ifada Nur Rohmania, Rabu (15/7/2026), mengingatkan bahwa dampak bullying tidak hanya meninggalkan luka emosional sesaat, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan psikologis korban dalam jangka panjang. Menurutnya, banyak korban memilih memendam pengalaman yang dialami karena takut, malu, atau mendapat ancaman dari pelaku agar tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun.
“Kondisi seperti ini membuat korban merasa terisolasi dan kehilangan keberanian untuk mencari pertolongan. Mereka akhirnya menghadapi tekanan psikologis sendirian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, korban yang terus-menerus mengalami tekanan berpotensi mengalami stres berkepanjangan, kehilangan konsentrasi, sulit fokus dalam belajar maupun menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi tertentu, gangguan psikologis yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan mental yang lebih serius sehingga membutuhkan pendampingan profesional.
Menurut Ifada, selama ini masyarakat masih cenderung mengidentikkan bullying dengan tindakan mengejek, menghina, mengucilkan, atau melakukan kekerasan fisik. Padahal, perkembangan teknologi telah melahirkan pola perundungan baru yang memanfaatkan media sosial maupun aplikasi percakapan.
Salah satu modus yang kini semakin sering ditemukan adalah love scamming. Pelaku membangun hubungan virtual yang tampak meyakinkan, menciptakan kedekatan emosional dengan korban, kemudian secara perlahan meminta korban melakukan tindakan yang bersifat pribadi atau tidak pantas.
Materi yang diperoleh kemudian dijadikan alat untuk mengancam, mempermalukan, atau memeras korban apabila permintaan pelaku tidak dipenuhi.
Fenomena tersebut, kata Ifada, tidak hanya mengancam remaja perempuan. Remaja laki-laki juga memiliki risiko yang sama menjadi sasaran pelaku karena pada usia tersebut seseorang umumnya masih berada dalam fase perkembangan emosional yang cenderung impulsif dan belum sepenuhnya mampu mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Ia menilai, tingginya aktivitas remaja di dunia digital harus diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Pemahaman mengenai keamanan berinternet, perlindungan data pribadi, serta kemampuan mengenali berbagai modus kejahatan siber menjadi bekal penting agar mereka tidak mudah terjebak dalam manipulasi pelaku.
Selain edukasi, keberanian korban untuk menyampaikan apa yang dialaminya juga menjadi faktor penting dalam memutus rantai bullying. Korban tidak seharusnya merasa sendiri ataupun takut untuk meminta bantuan kepada orang tua, guru, keluarga, maupun pihak berwenang apabila mengalami intimidasi atau ancaman di ruang digital.
Ifada menegaskan, penanganan yang cepat melalui pelaporan akan membuka peluang bagi korban memperoleh perlindungan psikologis sekaligus mencegah pelaku mengulangi perbuatannya terhadap korban lain. Semakin cepat sebuah kasus diketahui, semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Fenomena bullying digital yang terus berkembang menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak dan remaja tidak lagi cukup dilakukan hanya di lingkungan sekolah.
Pengawasan keluarga, pendidikan karakter, literasi digital, serta kepedulian masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi generasi muda. Dengan kolaborasi tersebut, berbagai bentuk perundungan, termasuk yang berkedok hubungan asmara di dunia maya, diharapkan dapat dicegah sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan mental dan masa depan para korban. [Hilal]




















