Surabaya|Tribun News 99 — Kepanikan melanda Perairan Utara Pulau Madura setelah KMP Mutiara Sentosa 2 mengalami kebakaran saat berlayar. Insiden yang terjadi pada akhir pekan itu memicu operasi penyelamatan berskala besar yang melibatkan berbagai unsur SAR, kapal-kapal niaga, kapal komersial, serta instansi terkait. Hingga proses pendataan terakhir yang disampaikan tim SAR, ratusan penumpang berhasil dievakuasi, sementara lima orang dinyatakan meninggal dunia.
Berdasarkan data yang disampaikan Kantor SAR Surabaya hingga Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB, sebanyak 232 orang telah dievakuasi dari lokasi kejadian. Dari jumlah tersebut, 227 orang berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup, sedangkan lima korban ditemukan meninggal dunia. Proses identifikasi dan pencocokan data masih terus dilakukan untuk memastikan seluruh penumpang maupun awak kapal telah berhasil dievakuasi.

Kepala Kantor SAR Surabaya yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), Nanang Sigit P.H., menjelaskan bahwa operasi penyelamatan berlangsung dalam situasi yang menuntut kecepatan sekaligus koordinasi tinggi. Sejumlah kapal yang kebetulan berada di sekitar lokasi segera mengubah haluan untuk memberikan pertolongan kepada para korban yang terapung di laut maupun masih bertahan di bagian kapal yang belum sepenuhnya dilalap api.
Sedikitnya sembilan kapal niaga dan kapal komersial mengambil peran penting dalam proses evakuasi. Kehadiran mereka mempercepat penyelamatan sebelum seluruh korban dipindahkan menuju pelabuhan yang telah ditentukan.
Data SAR menunjukkan Kapal Meratus Pematang Siantar menjadi armada yang mengevakuasi korban terbanyak dengan total 111 orang, terdiri atas 109 penumpang selamat dan dua korban meninggal dunia. Tugboat Hasnur 26 mengevakuasi 66 orang dengan rincian 65 selamat dan satu meninggal dunia. Kapal Transco Arafura berhasil menyelamatkan 17 orang yang seluruhnya dalam kondisi selamat.
Sementara itu, Kapal Meratus Project 3 mengevakuasi 14 orang, terdiri atas 13 korban selamat dan satu korban meninggal dunia. Kapal Selaras Mas, Prakarsa Mas, serta SC Aila XVII masing-masing mengevakuasi tujuh orang yang seluruhnya berhasil diselamatkan. Kapal British Mentor turut menyelamatkan dua korban, sedangkan Kapal Icon Daniel mengevakuasi satu korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Operasi penyelamatan tidak hanya berfokus pada pemindahan korban, tetapi juga memastikan seluruh penumpang memperoleh penanganan medis serta pendataan identitas secara akurat. Petugas kesehatan dan aparat gabungan bersiaga di titik kedatangan untuk memberikan pemeriksaan awal kepada para korban yang mengalami kelelahan maupun syok setelah insiden tersebut.
Di sisi lain, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan kapal tidak tenggelam meskipun mengalami kebakaran hebat. Api disebut telah berhasil dipadamkan, namun hingga Senin, 3 Agustus 2026, masih tampak asap keluar dari bagian dalam kapal sehingga pengawasan terhadap kondisi kapal tetap dilakukan.
Menurut Dudy, pemerintah belum dapat menyatakan seluruh penumpang telah berhasil ditemukan. Penyebabnya, proses verifikasi masih berlangsung dengan mencocokkan jumlah korban yang dievakuasi dari berbagai kapal penyelamat terhadap manifest resmi milik perusahaan pelayaran.
Setiap kapal yang membawa korban diarahkan untuk menyerahkan data penumpang yang berhasil dievakuasi. Seluruh informasi tersebut kemudian diperiksa secara menyeluruh agar tidak ada penumpang ataupun awak kapal yang terlewat dalam pendataan.
Pemerintah juga mengakui proses pencocokan membutuhkan waktu karena sejumlah kapal penyelamat masih berada dalam perjalanan menuju pelabuhan, sebagian lainnya belum dapat dihubungi secara penuh, serta terdapat perpindahan penumpang dari satu kapal evakuasi ke kapal lain selama proses penyelamatan berlangsung di tengah laut.
Basarnas bersama unsur TNI, Polri, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), operator pelayaran, serta berbagai instansi terkait masih melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan. Keputusan mengenai penghentian atau perpanjangan operasi akan ditentukan setelah seluruh data manifest selesai diverifikasi dan dipastikan tidak ada lagi penumpang maupun awak kapal yang belum ditemukan.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang. Otoritas belum menyampaikan kesimpulan mengenai sumber api maupun dugaan faktor yang memicu insiden tersebut. Pemerintah mengimbau masyarakat menunggu hasil investigasi resmi agar informasi yang beredar tetap berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya penerapan standar keselamatan pelayaran, kesiapan prosedur tanggap darurat, serta akurasi manifest penumpang sebagai bagian dari sistem perlindungan terhadap keselamatan setiap orang yang menggunakan transportasi laut di Indonesia. [Hilal]




















