Tulungagung |Tribun News 99.com — Riuh lomba perahu dayung di Pinggir Kali Botoran, Sabtu, 8 Agustus 2026, menyimpan persoalan yang lebih sederhana sekaligus penting: warga ingin memiliki sarana olahraga sendiri. Di tengah 43 tim yang berlomba dan 80 UMKM yang ikut meramaikan kegiatan, perahu yang digunakan peserta ternyata masih harus disewa.
Lomba tersebut digelar Kelurahan Botoran dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pelaksana Tugas Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, SM., MM., hadir dan secara simbolis memberangkatkan para peserta.

Bagi masyarakat, perlombaan itu menjadi hiburan sekaligus ruang berkumpul. Bagi pelaku usaha kecil, keramaian tersebut membuka kesempatan untuk menawarkan dagangan. Namun bagi panitia, momentum itu juga menjadi kesempatan menyampaikan kebutuhan yang selama ini belum tersedia: perahu dayung yang dapat digunakan sendiri oleh warga.
Ketua Panitia Pelaksana, Agus, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang membantu kegiatan tersebut. Ia berharap penyelenggaraan lomba dapat terus berkembang dan digelar lebih besar pada tahun mendatang.
Tetapi ada satu persoalan yang menurutnya perlu mendapat perhatian. Sarana utama perlombaan belum dimiliki masyarakat. Perahu yang digunakan dalam kegiatan masih berstatus sewa.
Agus karena itu menyampaikan harapan agar pemerintah daerah dapat membantu menyediakan perahu dayung untuk warga Botoran. Fasilitas tersebut dinilai dapat mendukung keberlanjutan kegiatan olahraga masyarakat dan membuat penyelenggaraan perlombaan tidak selalu bergantung pada penyewaan sarana.
Aspirasi itu mendapat respons positif dari Ahmad Baharudin. Namun pemerintah daerah belum menyatakan bahwa pengadaan perahu tersebut sudah diputuskan atau akan segera direalisasikan.
Ahmad mengatakan pihaknya akan berkomunikasi dengan pengurus cabang olahraga dayung. Panitia juga dipersilakan berkoordinasi dengan Dinas Kepemudaan dan Olahraga maupun KONI agar kebutuhan tersebut dapat disampaikan melalui jalur yang sesuai.
Pemerintah, kata Ahmad, akan berupaya mengakomodasi kebutuhan masyarakat sepanjang seluruh ketentuan dan regulasi yang dipersyaratkan terpenuhi.
Posisi ini membuat permintaan perahu dayung masih berada pada tahap aspirasi dan koordinasi. Realisasinya bergantung pada proses lebih lanjut, termasuk mekanisme dan aturan yang berlaku.
Di sisi lain, kegiatan di Botoran memperlihatkan bahwa olahraga masyarakat bisa menjadi penggerak aktivitas ekonomi dalam skala lokal. Sebanyak 80 UMKM se-Kelurahan Botoran dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran puluhan pelaku UMKM membuat acara tidak hanya menjadi tontonan olahraga. Kerumunan warga dan peserta menciptakan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk beraktivitas dan memperkenalkan produk mereka.
Hal itu pula yang mendapat perhatian Ahmad Baharudin. Ia mengapresiasi kerja panitia dan pihak sponsor yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi pemerintah daerah, kegiatan semacam itu juga memiliki fungsi sosial. Kompetisi olahraga dapat menjadi ruang pertemuan warga, memperkuat hubungan antarkelompok dan menjaga suasana lingkungan tetap kondusif.
Ahmad meminta peserta menjaga sportivitas selama perlombaan. Menurut dia, pertandingan tidak semestinya hanya dipandang sebagai perebutan kemenangan, tetapi juga sebagai sarana mempererat silaturahmi.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan yang melibatkan puluhan tim dari berbagai kelompok masyarakat. Di tengah persaingan di atas air, semangat yang hendak dibangun justru adalah kebersamaan di darat.
Lomba perahu dayung Botoran akhirnya memperlihatkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia menjadi perayaan kemerdekaan yang meriah. Di sisi lain, ia membuka kebutuhan nyata masyarakat terhadap fasilitas olahraga yang dapat menunjang kegiatan secara berkelanjutan.
Sebanyak 43 tim telah bertanding. Sebanyak 80 UMKM ikut mengambil bagian. Pemerintah daerah telah mendengar permintaan penyediaan perahu. Berikutnya, yang ditunggu bukan lagi sekadar kemeriahan perlombaan, melainkan tindak lanjut dari aspirasi tersebut sesuai mekanisme yang berlaku.
Jika fasilitas itu kelak dapat diwujudkan melalui prosedur yang sah, lomba perahu dayung Botoran tidak hanya akan menjadi agenda tahunan peringatan kemerdekaan. Ia berpotensi berkembang menjadi kegiatan olahraga masyarakat yang memiliki sarana lebih mandiri sekaligus terus membuka ruang ekonomi bagi warga.
Untuk sementara, Botoran telah menunjukkan bahwa sebuah perlombaan sederhana dapat menghidupkan tepian kali, mempertemukan warga dan menggerakkan UMKM. Persoalan berikutnya tinggal bagaimana semangat itu dapat dipertahankan setelah bendera lomba diturunkan dan keramaian berakhir. [Hilal]




















